---
title: "Allnovel-mk1 image ad, 8 days run"
url: https://findwinningads.com/ads/1176961714568910
updated: 2026-10-31T06:17:41.501Z
source: WinningAds (findwinningads.com), public Meta Ad Library data
---
# Allnovel-mk1 image ad, 8 days run

Allnovel-mk1 has run this image ad on Facebook and Instagram and Audience Network and Messenger and Threads since 6 Jan 2026: 8 days, stopped on 14 Jan 2026.

| Fact | Value |
| --- | --- |
| Brand | [Allnovel-mk1](https://findwinningads.com/brands/allnovel-mk1) |
| Started | 6 Jan 2026 |
| Ended | 14 Jan 2026 |
| Days running | 8 |
| Format | Image |
| Versions | Not shown |
| Platforms | FACEBOOK, INSTAGRAM, AUDIENCE_NETWORK, MESSENGER, THREADS |
| Sends people to | website |
| Category | – |
| Meta Ad Library | https://www.facebook.com/ads/library/?id=1176961714568910 |

**Headline:** Klik untuk membaca lebih banyak konten menarik Aku yang Jatuh Cinta

**Ad text:**

"""""""Aku tidak keberatan sama sekali jika kamu ingin menceraikanku secepatnya. Atau jika kamu ingin bertahan hingga kakak Putri kembali aku juga tidak masalah. Semoga kamu tidak berpikir jika aku memanfaatkan pernikahan ini. Aku melakukannya karena Pakde, tidak ada niat lain."""" Saki menatapnya dengan senyum, tanpa tahu jika ucapannya begitu menyentak dan mengejutkan Dipta.

Wanita ini, kenapa bisa mengatakannya semudah itu? Dan apa tadi setelahnya? Akan menjalankan perannya sebagai seorang istri? Wanita ini penuh dengan kejutan.

""""Kenapa kamu memikirkan perceraian?"""" Tanya Dipta menatapnya dalam, setelah lama terdiam.

“Karena kamu mencintai Putri, dan pernikahan ini kesalahan, seperti yang tadi aku katakan, niatku murni hanya untuk membantu Pakde, tidak akan mengambil keuntungan apapun.""""

""""Tidak menceraikanmu secepatnya dan tidak menceraikanmu sekali pun Putri kembali. Kenapa aku harus menceraikanmu padahal aku sudah menikahimu?"""" Dipta justru membalikkan pertanyaannya, membuat Saki kehilangan kata-katanya. Tatapan Dipta begitu lekat, membuat Saki membeku dengan tubuh yang menggigil. Kenapa pria itu mengatakan hal tidak terduga?

Dipta menyungging senyum melihat keterkejutan di wajah Saki. Wanita ini menarik. Seperti tidak memikirkan perasaannya sama sekali. Benar-benar hanya ingin membantu Pakdenya sebagai balas budi?"""
*****
"Langkah kaki wanita itu terlihat pelan sejak turun dari taksi yang mengantarnya pulang ke kampung penuh kenangan hingga masa remajanya. Dari jarak lima meter ke tempat yang dia tuju, sudah terdengar begitu ramai suara musik Jawa juga kemegahan dalam sebuah hajatan pernikahan itu. 

Bibirnya menyungging senyum, dia bisa membayangkan semewah dan semegah apa pesta pernikahan yang digelar itu. Budenya masih merupakan keturunan ningrat. Memiliki silsilah yang tersambung dengan keluarga keraton Yogyakarta, jelas pesta pernikahan itu digelar begitu meriah dan mengikuti setiap adat yang ada. Wanita itu -Saki- jadi membayangkan selelah apa menjadi sepupunya -Putri.- yang harus mengikuti serangakaian upacara adat. Ah, jika dia menikah nanti dia hanya menginginkan intimate wedding.

Dia sengaja datang di hari akad dan resepsi, agar besoknya bisa langsung kembali ke Jakarta karena dia hanya mengambil cuti satu hari. 

“Mbak Saki … Ya Allah … Alhamdulillah kamu pulang. Dari tadi Pakde Raharja terus menanyakan Mbak sudah sampai atau belum.” Wanita yang menjadi salah satu asisten rumah tangga di tempat Budenya itu menatapnya dengan haru dan menyentuh tangannya, seolah benar-benar merasa bersyukur dengan kehadiran Saki. 

“Assalamualaikum, Mbok Sri. Apa kabar?” 

“Waalaikumsalam. Baik, Mba. Alhamdulillah. Tapi sepertinya di dalam sedang tidak baik.” Suara wanita paruh baya yang bertubuh gempal itu terdengar sedih, lalu mendekat pada Saki untuk membisikkan sesuatu. “Den Ayu Putri menghilang, Mbak. Tadi jam tiga pagi kamarnya diketuk untuk membangunkannya karena perias sudah datang, namun justru tidak ada di kamarnya. Tidak ada surat atau apapun. Tiba-tiba saja menghilang.” Ucapan Mbok Sri membuat Saki terperanjat. 

“Bagaimana bisa, Mbok? Putri menikah dengan pria pilihannya kan? Bukan perjodohan? Kenapa bisa tiba-tiba hilang?” Tanya Saki dengan nada yang juga berbisik. 

“Iya Mbak, itu adalah suami pilihan Den Ayu, sudah datang melamar enam bulan lalu. Keluarga mempelai pria sudah datang sejak satu jam yang lalu, dan mungkin di dalam mereka sedang berdiskusi. Rasanya acara tidak mungkin dibatalkan, Mbak. Saya dengar keluarga prianya juga merupakan orang berpengaruh, ada sekitar tiga ribu undangan yang datang di acara resepsi ini. Belum di hari-hari sebelumnya.” Ucap Mbok Sri lagi dengan tatapan yang juga bingung namun penasaran apa yang akan terjadi dan bagaimana masalah ini selesai. 

Saki yang mendengarnya hanya bisa meringis, membayangkan bagaimana wajah Pakde dan Budenya pasti sangat kecewa dan buntung menghadapi ini. 

“Saki …” Panggilan itu membuat Saki mendongak, itu saudara Budenya, menatapnya lekat dan memanggilnya dengan gerakan tangan meminta untuk mendekat pada wanita tua itu. 

“Assalamualaikum, Bude Nur. Apa kabar?” 

“Buruk. Sudah cepat kamu masuk, Budemu mau bicara.” Dengan sedikit kasar Bude Nur menarik Saki untuk mengikutinya, membuat Saki menghela napasnya panjang, bertemu dengan keluarga Budenya selalu menjadi hal yang sangat ia hindari sejak dulu. Namun, dalam keadaan seperti ini, bagaimana dia bisa menghindar?

Saki masuk ke salah satu ruangan, itu kamar pengantin, yang membuat Saki menelan ludahnya susah payah. Ada Budenya di sana juga Pakdenya dan beberapa orang yang sebagian dia kenal sebagiannya lagi tidak. 

Bude meminta semua orang di sana keluar dengan nada yang garang, sedang Pakde terduduk lesu di tepi ranjang yang sudah dihias begitu indah, dengan kelopak bunga mawar di tengah yang membentuk love. 

Bude Farah menatapnya dengan tajam. 

“Kamu ingat kan hutang kamu sangat besar kepada kami? Hutang yang membuat kamu bisa hidup sampai saat ini. Kamu saya besarkan, saya sekolahkan bahkan saya angkat menjadi anak saya tanpa sepeser pun uang yang ditinggalkan oleh orang tua kamu. Sudah seharusnya kamu membayar semua itu, dan semua itu tidak bisa diganti dengan uang. Harus dengan sesuatu yang lebih berharga daripada uang. Hidupmu!” Ucap Bude Farah dengan nada yang penuh amarah. 

Saki sudah ketar-ketir, apa yang diinginkan oleh Budenya? Apakah ini ada hubungannya dengan yang diucapkan oleh Mbok Sri?

“Apakah Putri benar-benar pergi, Bude?” Tanya Saki, namun justru tamparan yang dia terima. 

“Buk. Jangan kasar pada Saki.” Pakde Raharja datang dan mencekal tangan istrinya.

Saki hanya meringis dengan senyum yang miris, rasanya sudah lama sekali tidak mendapatkan tamparan ini. 

“Bude ingin aku melakukan apa untuk membereskan kekacauan ini?” Tanya Saki to the point. Mendengar itu membuat Bude Farah tersenyum sinis. 

“Menikah dengan calon suami Putri, dan kamu harus bercerai dengannya saat Putri kembali! Dia hanya titipan dan harus kamu kembalikan kepada pemilik aslinya!” Ucapan Bude Farah lebih seperti ultimatum yang mengejutkan Saki, dia menatap pada Pakdenya yang memberikan tatapan iba, namun Saki menemukan jawaban jika artinya memang Pakde nya juga telah mengetahui rencana ini.

Saki memejamkan matanya. Inikah yang harus dia bayar sebagai ‘hutang kehidupan’ yang selalu diwanti-wanti oleh budenya itu?

“Kurang ajar! Seharusnya keluarga Danadyaksa hanya akan menikahi keturunan sah Kusumadiningrat! Bukan kamu yang hanya memiliki darah rakyat jelata! Ingat ini, Saki! Kamu tidak pantas sama sekali bersanding dengan pria itu! Dia hanya pantas bersanding dengan Putri! Putri hanya menitipkannya sebentar kepadamu! Dan kamu harus segera mengembalikannya saat sang pemilik asli telah kembali!” Bude Fara mengatakannya penuh dengan penekanan, seolah meminta agar Saki mengingat dengan baik setiap kata yang diucapkan oleh wanita paruh baya itu. 

Benarkah ini adalah balasan ‘hutang kehidupan’ yang setimpal? Tapi pernikahan yang dia bayangkan bukan seperti ini. Yang dia inginkan adalah menikah dengan orang yang dicintainya, berkasih sayang dan saling menenangkan satu sama lain. Sakinah, Mawaddah, Warahmah seperti yang dia lihat ada dalam kehidupan rumah tangga Ayah dan Ibunya puluhan tahun silam. 

Bisakah dia membayar dengan cara yang lain? Namun adakah cara lain itu di kemudian hari? Dia juga ingin segera membayar ‘hutang kehidupan’ yang selalu diungkit-ungkit budenya itu, yang menjadi beban tersendiri untuknya. Beban yang tidak bisa ia ungkapkan kepada siapa pun, karena dia tidak memiliki siapa pun. 

“Bagaimana jika aku menolak, Bude? Aku akan membayar hutangku dengan cara lain.” Pada akhirnya Saki mencoba bernegosiasi, sekeping hatinya masih ingin memiliki pernikahan impiannya bersama laki-laki yang dicintainya. 

Namun justru tamparan kedua kembali dilayangkan, kini lebih perih hingga sudut bibirnya berdarah. 

“Anak kurang ajar! Tidak tau diri! Kamu pikir kamu memiliki pilihan, hah?! Jika aku tidak memungut kamu! Kamu sudah jadi gembel sejak lama! Tutup mulutmu dan bayar saja hutangmu!” Bude Farah menatapnya dengan tatapan yang nyalang, dan Saki tau sudah tidak ada kesempatan untuk dirinya menantang. 

Atau jika dia masih nekat menantang, maka mungkin Budenya akan benar-benar menjalankan ancaman yang selama ini selalu dilayangkan untuk Saki. Membongkar makan kedua orang tuanya. 

Masih sibuk dengan pikirannya, tangan Saki ditarik dengan kuat oleh Bude Farah. 

“Ratna! Cepat rias dia sebagai mempelai wanita! Yang cepat saja! Tidak perlu cantik!” Ucap Bude Farah yang mendorong Saki pada wanita asing yang tidak dikenalnya, namun wanita itu menyungging senyum pada Saki. 

Selama dirias, Saki hanya diam, pikirannya penuh dengan begitu banyak kejadian yang mengejutkannya. Tujuh tahun dia tidak pulang namun pulang-pulang justru akan berubah status seperti ini. Menikah dengan pria yang bahkan dia belum tau namanya sama sekali. 

Siapa tadi, Danadyaksa? Saki tidak mengenalnya sama sekali. No clue. Helaan napasnya panjang. Kepalanya kini juga penuh dengan pertanyaan, kenapa pria itu setuju menikah dengan wanita yang tidak dikenalnya bahkan namanya saja tidak tau. Persis sama sepertinya. Mereka asing dan tidak mengenal satu sama lain. 

Namun, Saki teringat dengan obrolan Mbok Sri. Jika keluarga pria itu juga berpengaruh, mungkin itulah alasan satu-satunya yang membuat pria itu terpaksa mau menikah dengan wanita asing yang bahkan belum diketahui namanya. Apalagi tadi Mbok Sri mengatakan jika ada tiga ribu undangan. 

Tangan Saki lihai membuka ponselnya dan mencari nama Danadyaksa di kolom pencarian internet. Semakin dia membaca, semakin dia menganga lebar membaca profil keluarga pria itu. Bukan hanya kaya, namun kelewatan kaya. Lini perusahaan keluarga pria itu bergerak di banyak bidang, pantas saja Budenya tadi mengatakan seperti itu. 

Saki mengulum senyumnya, apa tanggapan keluarga pria itu jika pada akhirnya putra mereka justru menikah dengan seorang anak yatim piatu, yang bukan dari keturunan darah biru dan hidup tanpa harta warisan dari orang tuanya. 

“Mbak …” Panggilan itu menyentak Saki dari lamunannya. Mbok Sri datang dengan mata berkaca-kaca. “Yang sabar ya, Mbak. Percaya sama Gusti Allah. Semua ini pasti ada alasannya. Terus berprasangka baik sama Gusti Allah nggih, Mbak. Mbok selalu mendoakan kebahagiaan Mbak.” Mbok Sri kini justru sudah berlinang air mata, membuat Saki juga berkaca-kaca, masih ada yang tulus menyayanginya selain Pakdenya ternyata. 

“Terima kasih, ya Mbok. Insya Allah Saki jalani dengan ikhlas. Terserah bagaimana Allah saja mau mengaturnya seperti apa.” Ucap Saki menggenggam tangan Mbok Sri. 

Dia tau semua yang terjadi pasti ada maksud dan tujuan. Saki akan menjalani sebagaimana mestinya. Jika pria itu menginginkan perceraian setelahnya, maka Saki akan menerimanya dengan lapang dada. Jika pria itu ingin bertahan dengan pernikahan ini sambil menunggu Putri kembali, maka dia akan menjalankan sebaik-baiknya peran istri itu. 

Sekali pun pernikahan ini terjadi dengan cara yang konyol, Saki tidak akan mempermainkan perannya sebagai seorang Istri di hadapan Allah. Dia teringat nasihat dari Bu Tita. Istri Bosnya di kantor. Pernikahan itu antara seorang hamba dengan Allah, dan kita cukup berada di garis kita sebagai istri dan tidak melanggar apa-apa yang menjadi kewajiban kita. 

‘Tenang, Saki. Semua tidak akan seburuk bayanganmu. Bukankah kamu pernah mengalami banyak hal pahit dalam hidup. Tapi hingga detik ini kamu tetap baik, kan? Maka hadapilah masalah ini sebagaimana kamu biasa menghadapi masalah-masalah kamu.’ Saki mencoba memberikan afirmasi positif untuk dirinya, hingga Ratna mengatakan jika riasannya sudah selesai dan artinya ijab qobul akan segera dilaksanakan dan dia juga akan segera bertemu pria asing yang sebentar lagi menjadi suaminya.

“Dipta … Katakan sesuatu… Kamu kekasihnya, bagaimana mungkin Putri kabur di hari pernikahannya? Kalian bertengkar sebelumnya?” Tanya wanita paruh baya yang menatap putranya dengan tatapan campur aduk. 

“Mba Putri yang salah, kenapa harus menyalahkan Mas Dipta, Ma?” Itu suara wanita yang terlihat paling muda di sana, adik bungsu Dipta. “Dia yang bikin keluarga kita malu! Seenaknya kabur tanpa tanggung jawab!” Gadis itu kembali menggerutu. 

Sedangkan mempelai pria masih belum mengeluarkan suaranya, keadaan ini terlalu mendadak, di luar nalarnya, kepalanya penuh dengan pertanyaan kenapa dan ada apa dengan calon istrinya itu. 

“Dipta … Pernikahan ini tidak mungkin dibatalkan. Semua tamu undangan sudah datang, banyak kerabat dan rekan bisnis yang datang. Eyang tidak mau menanggung malu. Pernikahan ini harus tetap berlangsung, dengan atau pun tanpa Putri.” Itu suara seorang wanita yang usianya sudah terlihat senja namun wajahnya masih terlihat bugar. 

“Dipta tau. Dipta akan tetap menikah hari ini! Dipta yakin Tante Farah dan suaminya akan menemukan solusi atas masalah yang dibuat oleh Putri.” Ucap Dipta dengan tatapan mata yang menggelap. 

Dia tau semua ini harus tetap berjalan seperti rencana atau keluarganya akan menanggung malu, pun dirinya, dia tidak memiliki kandidat yang bisa dijadikan mempelai dadakan, walau dia bisa mengambil satu dari sekian banyak wanita yang tergila-gila padanya yang akan dengan sukarela mengatakan iya untuk menjadi pengantinnya hari ini. Namun, Dipta tidak akan melakukannya, dia ingin melihat sejauh mana keluarga dari calon istrinya yang telah kabur itu bertanggung jawab. 

“Lalu siapa yang mau menjadi mempelai dadakan, Mah? Yang benar saja.” Suara Ayahnya ikut mengerang frustasi. 

Hingga pintu diketuk, membuat si bungsu membuka pintunya dan terlihat Farah juga Raharja datang dengan raut wajah yang penuh rasa bersalah. 

“Kurang ajar ya kamu! Kamu mempermalukan keluarga saya!” Teriakan itu langsung menggema, memenuhi ruangan yang semakin mencekam. 

“Sungguh saya minta maaf Jeng Laras. Ini masalah kita bersama. Saya juga tidak tau alasan anak saya menghilang. Apakah menghilang atau diculik. Namun saya tau pernikahan ini harus tetap berjalan, banyak kerabat Anda dan kerabat saya dari keraton. Tidak mungkin dibatalkan begitu saja.” Ucap Farah yang berusaha menenangkan calon besannya itu. 

“Lalu siapa yang bisa menggantikan putrimu yang sembrono itu?!” Laras menatap Farah dengan ketus. 

“Sepupunya Putri. Namanya hampir sama, jadi seharusnya para tamu undangan tidak akan terlalu notice dengan perubahan nama itu, walau keluargaku dan kerabat pasti akan menyadarinya, namun aku bisa mengatasi itu nanti.” Ucap Farah dengan tenang walau ada kekesalan di hatinya. 

“Dia bersedia?” Tanya Fairuz, ayah dari Dipta dengan nada yang sanksi. 

“Atau kita tetap nikahkan Dipta dengan Putri? Dia hanya akan mewakili Putri saja?” Tanya Farah yang tiba-tiba terpikirkan ide itu, wajahnya terlihat lebih cerah. 

“Tidak! Aku akan menikahi wanita itu sesuai dengan namanya.” Itu suara Dipta yang mengatakannya dengan tegas. Dia tidak akan membiarkan pernikahannya kembali dipermainkan oleh keluarga dari calon istrinya yang tiba-tiba kabur. 

“Kamu ini tidak tau kesalahan kamu ya? Kamu sudah melempar kotoran ke wajah kami. Keluarga Danadyaksa. Dan demi kepentingan kamu yang ingin tetap menjadi besan kami, kamu mengatakan hal gila itu. Saya tidak bisa menerimanya Ibu Farah. Dipta akan tetap menikah dengan sepupunya Putri.” Ucap Surendra, yang paling tua di antara mereka. Wajah tampan itu terlihat menahan kekesalan. 

“Saya bukan menawarkan ide gila! Tapi sepupu Putri bukan bagian dari keturunanku, dia hanya rakyat jelata, anak yatim piatu yang kami angkat menjadi anak.” Ucap Farah dengan lantang, membuat Laras membulatkan matanya pun sebagian orang yang ada di sana. 

“Setidaknya dia mau mempertanggung jawabkan kebodohan saudaranya yang tidak bertanggung jawab itu. Dipta, kamu setuju tetap menikahinya kan? Mengucap namanya saat ijab qobul?” Kini Dania menatap dalam pada cucunya itu yang terlihat kacau dengan kejadian yang tak terduga, namun sekacau apapun dia harus tetap melanjutkan acara itu sampai selesai. 

“Siapa namanya?” Tanya Dipta, membuat Raharja langsung menyodorkan secarik kertas yang berisi nama lengkap mempelai wanitanya. 

Nadhira Saki Kusumadiningrat 

“Jangan sampai salah. Ucapkan dengan benar. Kamu menikahi Nadhira Saki Kusumadiningrat bukan Nadindra Putri Kusumadiningrat. Saya yang akan menikahkan kalian berdua.” Ucap Raharja yang suaranya terlihat lebih tenang. 

Dipta memejamkan matanya, seolah meyakinkan hatinya jika ini adalah keputusan baik yang menyangkut banyak orang yang harus dia ambil. 

Dia lalu mengangguk dan menuju keluar untuk melanjutkan prosesi pernikahan dari ijab qobul sampai dengan resepsi dan beberapa adat yang memang telah direncanakan. 

Keduanya keluar dari ruangan masing-masing, saat itulah mereka akhirnya saling menatap satu sama lain dengan pikiran yang penuh. Keduanya hanya saling mengangguk, lalu melanjutkan langkahnya. Saki didampingi oleh Bude Nur, sedang Dipta didampingi oleh Ayahnya. 

Dipta membaca lagi nama di secarik kertas itu saat telah duduk di meja akad. Wanita di sampingnya masih menunduk, dengan kedua tangan yang saling bertaut dan Dipta melihat tangan itu sedikit gemetar. 

Wanita itu bagaimana bisa mau bertanggung jawab atas kekacauan yang dibuat sepupunya? Apakah karena status keluarganya? Siapa yang tidak ingin menjadi menantu dan bagian dari keluarga Danadyaksa?

“Sudah siap, Mas Dipta?” Tanya Raharja yang kini menggenggam tangan Dipta dan tersenyum dengan anggukan kepala. Di depannya dia melihat keponakannya itu masih menunduk. 

Saat disodorkan mic oleh salah satu staff wedding organizer, Raharja menggelengkan kepalanya dan dengan maksud meminta ijab qobul itu tanpa menggunakan mic. Dipta memahami, ini untuk meredam perubahan nama dari calon mempelai wanita. 

Farah sudah akan protes, namun Laras yang duduk di sebelahnya menahan tangannya dan menatap tajam pada wanita itu. Menurutnya apa yang dilakukan Raharja sudah sangat tepat. Tapi menurut Farah, jika seperti itu, seharusnya Dipta tetap menikahi Putri saja, menyebut nama putri dalam ijab qobul sebagai mempelai wanita! Dia bisa mengambil gadis mana pun untuk dijadikan boneka pengantin yang bisa dia bayar berapa pun!

Tatapan Farah begitu tajam pada suaminya! Kenapa suaminya tidak mengatakan apa yang akan dilakukannya itu?! Kacau! Bagaimana suaminya itu mengambil keputusan sendiri?! Tatapannya semakin nyalang! Dia merasa kecolongan dua kali!

“Saya nikahkan dan kawinkan Engkau saudara Arjuna Dipta Danadyaksa bin Fairuz Danadyaksa dengan keponakan saya yang bernama Nadhira Saki Kusumadiningrat binti Bayu Nugroho dengan mas kawin berupa tujuh belas gram emas dan uang tunai sebesar tujuh puluh juta rupiah dibayar tunai.” Ucap Raharja dengan lancar walau hatinya penuh kekhawatiran akan masa depan keponakannya. 

Sedang Saki yang mendengar itu mendongak, dia menatap Pakdenya dengan tatapan yang berkaca-kaca, Pakdenya menikahkannya dengan namanya dan nama Ayah kandungnya. Pakdenya menikahkannya agar dia benar-benar sah menjadi istri pria di sampingnya kini. 

“Saya terima nikah dan kawinnya Nadhira Saki Kusumadiningrat binti Bayu Nugroho dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.” 

“Bagaimana saksi?” 

“Sah.”

“Sah.” 

“Alhamdulillah.” 

Air mata Saki menetes, dia benar-benar telah berubah menjadi seorang istri? Istri dari Ah, Saki tidak memperhatikan nama lengkapnya tadi, terlalu terkejut dengan tindakan pakdenya. Dia menatap Pakdenya dengan mata yang berkaca-kaca, dan pakdenya membalasnya dengan tatapan yang penuh kasih.

“Cium tangan suamimu, Nduk.” Ucapnya membuat Saki membalikkan badannya kini menghadap Dipta, wajahnya masih menunduk dan tangannya terulur untuk mencium tangan Dipta. 

Hingga dia merasakan uluran tangannya bersambut, yang diikuti usapan lembut di kepalanya dan juga sebuah doa yang dia aminkan. 

“Nduk, tugas Pakde telah selesai mengantarmu sampai pada pernikahan. Insya Allah ada hikmah dibalik pernikahan ini. Pakde berterima kasih karena kamu telah menyelamatkan Pakde hari ini.” Ucap Pakde Raharja membuat Saki tidak bisa menahan lagi air matanya. 

“Pakde…” Bisik Saki yang tidak tau harus mengatakan apa. 

“Masih banyak acara yang harus kalian lakukan setelah ini. Nak Dipta, walau pernikahan ini tidak sesuai dengan impian dan rencana kita. Namun Om titip keponakan Om ya, Insya Allah dia wanita yang baik.” Ucap Pakde Raharja dengan tatapan yang tulus. Untuk pertama kalinya, Saki memberanikan diri menatap wajah pria yang telah menjadi suaminya, dan dia bisa melihat pria itu hanya menyungging senyum tipis, Saki tidak bisa membaca ekspresi pria itu. 

Nyatanya cuti satu hari yang dia rencanakan kandas begitu saja. Padahal dia sudah memesan tiket pesawat untuk keberangkatan jam tiga sore, karena dia hanya akan menghadiri akad dan ikut resepsi sebentar lalu pulang lagi ke Jakarta jam tiga sore. 

Namun, ceritanya telah berbeda, dialah yang menjadi mempelainya, tentu dia harus mengikuti seluruh rangkaian acara hingga selesai. 

Tidak banyak kesempatan Saki untuk bisa mengobrol dengan pria yang telah menjadi suaminya itu karena begitu banyaknya tamu undangan yang datang. 

Acara selesai sekitar pukul dua belas malam. Saki baru masuk ke kamar pengantin yang seharusnya menjadi kamar Putri, baru saja dia akan merebahkan tubuhnya karena merasa punggungnya akan patah. 

Saki jadi tau nama pria itu adalah Dipta karena banyak tamu undangan yang memanggilnya demikian. 

Pintu kamar terbuka, membuat Saki mengurungkan niatnya untuk rebah di ranjang. Mereka bahkan secara teknis belum berkenalan satu sama lain. 

“Kita akan pulang ke Jakarta sekarang, bersama keluargaku. Kamu juga tinggal di Jakarta kan?” Tanya Dipta tanpa basa-basi, membuat Saki hanya mengangguk kaku. Ini jam dua belas malam. Mereka belum istirahat, kenapa buru-buru sekali? Saki juga baru akan mengirim email kepada bosnya meminta tambahan jatah cuti. 

“Tidak ada jadwal penerbangan jam segini.” Ucap Saki, entah kenapa hanya itu yang bisa Saki ucapkan. 

“Ada pesawat pribadi keluargaku. Lima belas menit cukup untuk kamu bersiap?” Tanya Dipta lagi, pria itu menatapnya lekat, lalu mendekat, membuat Saki reflek mundur. 

“Aku bantu melepas pernak-pernik di kepala kamu. Biar cepat.” Ucap Dipta yang kini mulai melepas satir juga bunga melati yang melekat di jilbab Saki. Saki tidak lagi bergerak, tapi jantungnya rasanya mau copot. Pria ini sangat gesit dan terlalu tiba-tiba, hingga Saki tidak memiliki persiapan untuk hatinya. 

“Well done. Gantilah bajumu, aku akan mengemas barang-barangku.” Ucap Dipta lalu beranjak dari sana, Saki masih terdiam. Namun otaknya masih berfungsi untuk tetap bergerak menuju kamar mandi dan mengganti baju yang membuatnya kesusahan bergerak itu. 

Dipta datang sepuluh menit kemudian di saat Saki juga sudah siap. 

“Sudah selesai? Kamu membawa barang ke sini?” Tanya Dipta, Saki langsung menggeleng. Dia hanya membawa sling bag dan tote bag yang kini sudah ada dengannya. 

“Oke, ayo berangkat.” 

“Tunggu, aku pamit dengan Pakde dulu.” Ucap Saki lalu keluar dari kamar, aneh rasanya mengobrol padahal mereka belum berkenalan sama sekali. 

“Pakde … Mas Dipta mengajak pulang malam ini juga ke Jakarta. Apa tidak apa-apa? Bukankah masih ada serangkaian acara yang Pakde buat?” Tanya Saki menatap bingung pada Raharja. 

Sedang Raharja hanya tersenyum dan mengusap lembut punggung tangan Saki. 

“Tidak apa-apa. Sisa acara di sini biar menjadi urusan Pakde. Turuti suamimu saja. Pakde mendoakan untuk kebahagiaanmu. Jika kamu mengalami kesulitan telepon Pakde ya. Jangan dengarkan ucapan Budemu, kamu tau dia orang yang seperti itu. Pakde minta maaf sekali atas kekacauan semua ini Saki.” 

Raharja meneteskan air matanya, membuat Saki ikut menangis dan mengangguk, Raharja langsung membawa keponakannya itu dalam dekapannya. 

“Saki menyayangi Pakde. Saki pergi dulu ya, Pakde. Titip salam untuk Bude.” 

“Iya, Nduk. Budemu masih ngambek di kamar dan tidak mau keluar. Pergilah, suamimu sudah menunggu.” Ucap Raharja membuat Saki melepaskan pelukannya dan menatap ke belakang melihat Dipta yang sudah menunggu di sana. 

“Kami pulang dulu Om.” Ucap Dipta, keluarga pria itu sudah menunggu di mobil yang akan mengantar mereka ke bandara. 

Hati Saki berdebar kencang, rasanya belum siap menghadapi keluarga besar pria itu yang pasti memiliki berbagai macam tanggapan tentangnya. 

“Dipta. Lama kamu! Mama sudah muak ada di sini. Cepat naik ke mobil!” Itu suara Laras saat melihat Dipta dan Saki yang baru keluar. 

“Kami akan naik mobil terpisah, Ma, Pa.” Ucap Dipta yang lagi-lagi membuat Saki terkejut. Apalagi pria itu yang langsung menggenggam tangannya dan mengajaknya masuk ke mobil. 

Ada staff di sana yang membukakan pintu mobil untuk Saki. Saki mengenalnya sebagai salah satu pelayan Bude Farah, dia hanya tersenyum sewajarnya dan langsung masuk mobil. 

Mobil melaju membelah jalanan Yogyakarta yang cukup lengang di tengah malam itu. Jantung Saki berdetetak keras dengan perasaan yang gugup luar biasa. 

“Kamu tinggal di mana di Jakarta, Saki?” Tanya Dipta memulai obrolan, pria itu tetap fokus pada jalanan di depannya. 

“Di daerah Kebon Jeruk, Mas.” Ucap Saki berusaha menahan suaranya agar tetap normal. 

“Kos? Rumah atau Apartemen?” Tanya Dipta lagi, pria itu terlihat sangat tenang, berbeda dengannya yang masih mencoba mengendalikan dirinya. 

“Apartemen. Menyewa tahunan.” 

“Oke. Aku juga tinggal di Apartemen, daerah Sudirman, kita akan tinggal di sana untuk ke depannya. Besok aku bantu kamu ambil barang-barangmu di apartemen. Sewanya tidak usah dilanjutkan.” 

“Aku baru memperpanjang bulan lalu.” Ucap Saki, membuat Dipta mengangguk.

“Mas … Nama lengkap kamu, aku lupa.” Ucap Saki jujur, mendengar itu membuat Dipta akhirnya menatap sekilas pada Saki dengan alis yang saling bertaut, namun pria itu kembali fokus ke depan. 

“Arjuna Dipta Danadyaksa. Remember that, ok?” 

“Oke. Arjuna Dipta Danadyaksa. Nama lengkapku …” 

“Nadhira Saki Kusumadiningrat. Aku hapal.” Dipta memotongnya, membuat lidah Saki kelu, pria itu begitu mudah menghapal namanya? Apa karena pria itu yang mengucapkan ijab qabul? Sedang dia yang bagian mendengarkan jadi lebih mudah lupa, apalagi tadi pikirannya begitu penuh, bahkan hingga saat ini. 

“Ya. Umur kamu, Mas?” Tanya Saki lagi, dia ingin mengetahui hal-hal dasar dari pria yang telah menjadi suaminya yang masih terasa sangat asing. 

Dipta kembali menoleh padanya tatapannya begitu lekat, kali ini cukup lama karena lampu merah, Saki merasa gugup. Pria itu seperti sedang menilai dirinya.

“Tiga puluh satu. Umur kamu dua puluh tujuh kan?” Ucap Dipta lagi, membuat Saki kini balik menatapnya. Bagaimana pria itu tau? Namun lidahnya kelu untuk kembali mengajukan pertanyaan dan pada akhirnya dia mengangguk. 

“Kamu mengajukan cuti berapa hari?” Kini balik Dipta yang bertanya. 

“Hanya sehari, namun aku sudah mengajukan lagi tadi via email. Semoga di-acc. Seharusnya besok tidak ada hal atau meeting yang urgent.” 

Saki menggeleng-gelengkan kepalanya, matanya ngantuk berat. Tapi ini kesempatan pertama untuk bisa mengobrol dengan pria itu. 

“Kamu kerja di mana? Sebagai apa?” 

“Di Aksara Pradiksa, Mas. Sebagai Sekertaris Direktur.” Ucap Saki menahan napasnya, menunggu reaksi Dipta, karena ratusan kali saat dia mengatakan profesinya, pasti 90% orang akan memandang setengah sinis padanya. Saki tidak menyalahkan karena memang sebagian orang memandang rendah pekerjaan itu dengan anggapan, mereka bukan hanya sekertaris yang melayani semua kebutuhan saat di kantor, namun juga di ranjang. 

Namun ekspresi Dipta masih datar, membuat Saki tidak ambil pusing. Dia memejamkan matanya, masih lima belas menit untuk sampai di bandara. Dia harus mengendalikan dirinya untuk menghadapi pria di depannya. Dia tidak boleh gugup, tidak boleh grogi. Harus mengutarakan semua yang mengganjal di hatinya tentang pernikahan ini, dan meminta kejelasan tentang rencana pria itu atas pernikahan mereka. 

Akan lebih baik dan mudah baginya jika pria itu cepat menceraikannya, sehingga dia bisa kembali pada hidupnya yang normal. 

Dipta yang melihat Saki memejamkan matanya membuat pria itu memilih bungkam dan tidak lagi melanjutkan pertanyaan selanjutnya. Hari ini sangat melelahkan dan dia tau lebih melelahkan bagi wanita yang telah menjadi istrinya itu yang tiba-tiba telah berubah status tanpa ada persiapan apa pun.

Saat tiba di bandara, ternyata semua orang telah naik ke pesawat, membuat Dipta kembali meraih tangannya dan mengajak Saki menuju ke landasan pacu di mana seorang pria menghampiri mereka dan menunjukkan jalan di mana pesawat pribadi itu parkir. 

Tangan Saki gemetar, dan Dipta merasakan itu di genggamannya, membuatnya menoleh pada wanita yang masih sulit ia baca itu. 

“Tidak usah gugup. Keluargaku tidak akan melemparmu keluar.” Ucap Dipta lalu kembali menarik tangan Saki untuk mengikutinya. 

Saki hanya menelan ludahnya, entah itu serius atau sarkasme, yang jelas membuat kepala Saki semakin penuh. 

“Lama!” Itu suara Mba Erina, kaka sulung Dipta saat pria itu baru tiba di pesawat dengan Saki yang berdiri di belakangnya, tangan mereka yang saling bertaut membuat Erina mendecak keras. 

Saki menelan ludahnya, menunduk dan memberikan senyum pada mereka yang menatapnya dengan tatapan menelisik penuh berbagai macam ekspresi, namun yang Saki tau, itu bukan ekspresi senyum, senang atau ramah, ada yang menatapnya sinis, yang memutar bola matanya jengah, yang menatapnya datar, ada yang mendecak. Membuat Saki menahan napasnya, sadar jika dia tidak diterima di sana dan pada akhirnya menunduk mengikut kemana Dipta membawanya, pria itu sama sekali tidak melepaskan genggaman tangannya. 

Dipta berhenti, Saki yang masih sibuk dengan pikirannya jadi tidak fokus, hingga dia menabrak dada Dipta yang sudah membalikkan badannya. 

“Aw. Sorry, Mas.” Bisik Saki. Dipta tidak bersuara, dia mengambil totebag Saki dan meletakkannya di kabin atas. 

“Duduklah.” Ucap Dipta lagi meminta Saki masuk dulu, Saki menelan ludahnya dan baru menyadari jika desain pesawat ini khusus hanya untuk kelas bisnis, dengan model dua-dua di kanan dan kiri, kursi yang luas dan nyaman, juga mewah. Saki bukannya takjub karena ini kelas bisnis, dia juga biasa naik kelas bisnis jika menemani bosnya perjalanan bisnis. 

Tapi mengingat Dipta tadi mengatakan jika itu adalah pesawat pribadi, Saki menelan ludahnya susah payah. Keluarga pria ini benar-benar konglomerat? Saki harus mencari tau lebih banyak tentang siapa pria yang dinikahinya. 

Tidak lama setelah mereka duduk, ada pramugari yang menyapanya dengan ramah, memberi tahukan jika mereka akan segera take off. Saki memilih kembali memejamkan matanya, lumayan satu jam untuk tidur sebelum tiba di Jakarta. Tubuhnya masih terasa remuk setelah acara pernikahan itu. 

Dipta ingin tidur, namun tidak bisa, terlalu penasaran dengan wanita di sampingnya, yang terlihat sudah terlelap dengan deru napas yang teratur. Siapa wanita ini sebenarnya? Putri tidak pernah menceritakan tentang sepupunya padahal mereka bersaudara. 

Dipta masih belum bisa membaca wanita itu, semuanya terlalu mendadak, dan dia perlu mengobrol lebih jauh dengan wanita itu. Dia memilih membuka ponselnya, mengecek jika ada sesuatu yang ditinggalkan Putri yang tiba-tiba menghilang. Namun semua tetap nihil, pesan-pesannya untuk wanita itu masih centang satu. Dia kembali mengingat-ingat pertemuan-pertemuan mereka dan menelaah apakah dia melakukan kesalahan yang menyakiti hati wanita itu? Namun rasanya tidak. Hubungan mereka selama ini baik, hubungan yang sehat dan Dipta memperlakukannya begitu baik. 

Nyatanya, matanya yang terasa berat itu tetap tidak bisa terpejam sepanjang perjalanan. Kepalanya penuh tentang kepergian mantan calon istrinya dan wanita asing yang statusnya telah menjadi istrinya. 

“Saki.” Panggil Dipta pelan yang langsung bisa membangunkan wanita itu. Saki mengerjap, lalu duduknya langsung tegap saat mengetahui jika pesawat bahkan sudah parkir. 

Kenapa pria itu tidak membangunkannya saat sudah akan landing?

“Ayo turun.” Ucap Dipta lagi yang sudah menurunkan koper juga totebag milik Saki, yang kini dia letakkan di atas kopernya. “Nanti lanjut tidur di rumah.” Ucap Dipta lagi yang melihat Saki masih duduk, padahal wanita itu menunggu Dipta beranjak dulu dan menyingkir supaya dia bisa lewat. 

“Kita pulang ke rumah keluarga kamu atau apartemen kamu, Mas?” Tanya Saki lagi, rasanya belum sanggup menghadapi keluarga suaminya itu apalagi tinggal bersama. 

“Apartemenku.” Ucap Dipta yang membuat Saki bernapas lega dan Dipta bisa melihat itu. 

“Dipta, pulang dulu ke rumah. Setelah menikah kamu juga tinggalah di rumah seperti kaka-kakamu. Mama ingin semua anak-anak Mama berkumpul di rumah.” Itu suara Laras yang lebih terdengar seperti ultimatum. 

Dipta kembali menarik tangan Saki untuk mengikutinya. Saki diam-diam menelan ludahnya dengan jantung yang berdegup mendengar ucapan wanita yang masih belum dia tau namanya itu. Wanita yang secara status adalah mama mertuanya. 

Kaka-kaka Dipta tinggal serumah dengan keluarganya bahkan setelah menikah? Diam-diam Saki mengaduh dalam hati. Dia tidak bisa jika Dipta mengikuti perintah mamanya. Tapi apa yang bisa dia lakukan? 

“Tidak, Ma. Aku akan tinggal di apartemen sementara sebelum mendapatkan rumah. Aku tidak ingin tinggal di rumah Mama. Ini hidupku dan rumah tanggaku. Aku tidak ingin tinggal satu atap bersama rumah tangga yang lain. Maaf ya, Ma. Dipta mau langsung pulang ke apartemen.” Dipta menghampiri Mamanya, mencium tangannya dan memeluknya. Saki juga ikut mencium tangan"

**Goes to:** https://www.nomnovel.com/dreame/adlanding/1/306076672/9435/fb06436/20261603113948?utm_source=facebook_ads&utm_campaign={{campaign.name}}&af_c_id=120238751526450681&af_adset={{adset.name}}&af_adset_id=120238751526960681&af_ad_id={{ad.id}}&af_ad={{ad.name}}&random=MTIwMjM4NzUxNTI2NDUwNjgx1767669971931648
